Selasa, 07 Agustus 2012

Gunung Api 'Super' yang Dapat Membunuh Jutaan Orang Dekat Pompeii

Letusan gunung Vesuvies dekat Naples, Italia, pada 79 Masehi yang membunuh ribuan penduduk Pompeii adalah salah satu letusan gunung api paling bersejarah. Namun para ilmuwan kini mengatakan telah menemukan "gunung api super" tersembunyi di daerah sama yang juga berpotensi membunuh jutaan orang. "Daerah
ini berpotensi mengalami letusan yang bisa menyebabkan bencana global, sama seperti dampak meteor," kata Giuseppe De Natale kepala pro
yek pengeboran dasar Bumi yang mengawasi kaldera lahar tersebut, pada Reuters. Kaldera terbentuk dari tanah yang runtuh setelah letusan gunung api. Kaldera bisa sama berbahayanya dengan kubah gunung api, mengirimkan magma dan abu ke udara. Kaldera itu terdapat di Campi Flegrei. Daerah tersebut, yang berarti 'terbakar' dalam bahasa Yunani, adalah tujuan populer buat para turis. Kawasan sekitarnya menjadi tempat tinggal 3 juta orang. "Inilah sebabnya Campi Flegrei harus dipelajari dan diawasi," kata De Natale. "Kawasan ini lebih berbahaya karena ada jutaan orang yang tinggal di gunung api tersebut." Ilmuwan yang dibiayai oleh International Continental Scientific Drilling Programme sudah mendapat izin untuk mengebor sampai 2,2 mil atau 3,5 km ke bawah tanah, menuju pusat kaldera, rumah raksasa batuan lahar. Setelah mereka mencapai pusat batuan lahar tersebut, mereka berencana memasang sistem pengawasan yang bisa memberi peringatan awal jika ada potensi letusan berbahaya. "Sebagian area ini, terutama Campi Flegrei, sangat padat penduduk sehingga letusan kecil saja, dan ini sangat mungkin terjadi sayangnya, bisa berisiko untuk populasi penduduk," kata De Natale, dari observatorium Vesuvius di Institut Geofisika dan Vulkanologi Nasional Italia. Tahap awal pengeboran sudah menghasilkan bukti ilmiah, termasuk sampel batu vulkanik dari letusan besar yang terjadi 15 ribu tahun lalu. Oleh Eric Pfeiffer, Yahoo! News:

Minggu, 05 Agustus 2012

MATAHARI TERBIT DARI BARAT DIBENARKAN ILMUWAN FISIKA DAN MASUK ISLAM

MATAHARI TERBIT DARI BARAT DIBENARKAN ILMUWAN FISIKA DAN MASUK ISLAM Ilmuwan Fisika Ukraina Masuk Islam Karena Membuktikan Kebenaran Al-qur’an Bahwa Putaran

suara ibu

Anakku...
Bagaimana kabarmu, apakah kamu baik-baik saja? Di rumah, ibumu juga sehat. Sekarang ini aku sedang memandangi cermin dan fotomu. Tiba-tiba aku menjadi sadar bahwa aku sudah mulai tua. Kerut merut di wajahku sudah semakin banyak dan aku tidak cekatan lagi seperti dulu. Aku sering iri padamu yang selalu ceria, riang, aktif dan penuh dinamika. Akupun pernah mengalami seperti itu dulu. Anakku... Ketika menikah dengan ayahmu, aku tidak pernah membayangkan akan mempunyai anak seperti kamu. Sungguh, aku bangga padamu. Setelah engkau besar kini, aku baru sadar betapa kecilnya aku ini, betapa tidak berartinya aku. Engkau lahir dan tumbuh semata-mata karena mukjizat dan rahmat Tuhan belaka. Tak kuingkari memang akulah yang mengandungmu selama sembilan bulan. Saat itu aku selalu gelisah menanti kelahiranmu. Aku selalu menjaga diriku agar bayi di perutku, yaitu kamu, sehat. Dengan susah payah dan sakit kulahirkan engkau. Aku termasuk beruntung karena tidak harus meninggal untuk melahirkanmu. Aku sampai menitikkan air mata bahagia saat mendengar tangis pertamamu yang lucu. Engkau ini darah dan dagingku sendiri; engkau tumbuh dari bagian tubuhku namun engkau lahir keluar sebagai manusia yang baru sama sekali. Dalam beberapa hal kamu memang mirip aku tetapi selebihnya engkau sungguh baru. Sejak kecil kurawat engkau dengan sangat hati-hati dan penuh kasih; engkau lebih kuperhatikan dari pada apapun yang pernah kumiliki. Kusuapi dan kususui engkau dengan air yang mengalir dari dadaku sendiri. Bila engkau menangis kugendong dan kuhibur. Kuberi engkau pakaian dan sepatu dan topi yang cocok untukmu. Tak lupa kubelikan juga mainan yang kau gemari; mobil-mobilan atau boneka-boneka yang lucu. Engkau masih ingat masa kecilmu, kan? Setiap pagi dan sore kumandikan engkau. Bila kau ngompol atau e’ek di celana atau di popok, dengan sabar kubersihkan dan kuganti dengan yang baru. Paling sedihlah aku, bila kamu sakit. Memang engkau waktu itu hanya makhluk kecil yang tidak berdaya, yang bisa saja kubuang ke kotak sampah atau ke selokan kalau aku mau. Tapi aku cinta padamu, engkau bagian dari hidupku sendiri. Maka kurawat engkau sungguh-sungguh, kubawa engkau ke dokter, kuusahakan agar kau mendapat vaksinasi dan makanan bergizi. Anakku... Pada waktu masih kecil dulu, kamu sering rewel, ngambeg bila tidak diberi uang jajan, atau sulit bila disuruh mandi. Kau ingat betapa manjanya kamu. Setiap kali kau lari ke pangkuanku bila engkau bertengkar dengan kakakmu, bila dimarahi ayah, atau bila dinakali teman-temanmu. Aku menjadi saksi untuk masa kecilmu yang manja, sehingga aku tak sempat lagi mengurus diri atau pergi sesuka hati. Kini engkau sudah dewasa... Aku bangga padamu, engkau harapanku. Namun aku sering sedih melihat kelakuanmu; kala engkau bermalas-malasan untuk bangun, kala bermain seharian tak tahu waktu. Hampir-hampir aku menangis bila kuingat betapa sulitnya menyuruhmu belajar, mengerjakan PR, atau mengingatkanmu untuk tidak membolos. Sepertinya kau tidak tahu bahwa ini semua demi kamu sendiri. Sungguh aku tidak bermaksud mau menyengsarakanmu dengan aturan-aturanku. Aku ingin engkau bahagia, bisa hidup pantas di tengah-tengah dunia yang penuh dengan persaingan ini. Kamu harus pandai supaya tidak mati tertelan jamanmu nanti. Anakku... Betapa sedihnya aku, ketika aku kau tuduh orang tua kolot, orang tua yang tidak mengikuti jaman, atau orang tua kampungan. Aku ingin dipahami bahwa kalau kusuruh kau bergaul tidak sembarangan, berpakaian yang pantas dan mau menghargai orang lain, adalah sungguh-sungguh supaya kamu menjadi manusia yang bermoral, bukan begajulan yang menghancurkan hidupnya dengan mau hidup sebebas-bebasnya. Kau lihat betapa banyak teman sebayamu yang sudah harus berhenti sekolah untuk mengasuh anak, betapa banyak teman seusiamu jatuh pada obat bius dan pornografi. Anakku, aku tahu engkaupun tidak ingin menjadi seperti itu. Sungguh kalau aku keras dalam hal ini karena aku tahu betapa halusnya bujukan setan dan betapa beratnya hidup yang tidak tegas terhadap yang jahat. Aku ingin kau pun memahami itu. Hatiku akan hancur bila sikapmu selalu melawan aku, bila kau selalu menganggap dirimu benar sendiri. Setiap malam aku berdoa untukmu, tak sekejap pun engkau hilang dari hidupku. Bila aku sedang memasak di dapur, yang kubayangkan adalah kepuasan makanmu dan juga kesehatan tubuhmu. Bila aku ikut membantu bekerja, yang kuinginkan engkau tidak terhambat karena biaya. Bila kubenahi kamarmu yang selalu berantakan yang kuinginkan agar kau krasan di rumah. Bila kubelikan kau baju-baju yang modis, aku ingin kau tidak malu pada teman-temanmu. Dan bila aku merawat kesehatan tubuhku sendiri, aku hanya ingin agar aku dapat lebih lama lagi mendampingi dan menyerahkan hidup kepadamu. Sekarang ini kamu sudah dewasa, banyak hal sudah dapat kau lakukan sendiri. Lambat laun akan terasa bahwa hidupmu memang menjadi tanggung jawabmu sendiri; tidak ada seorangpun yang dapat menggantikannya termasuk ibumu ini. Mohon jangan kecewakan aku dengan sikap keras kepalamu yang kekanak-kanakkan itu. Aku tidak cemburu kalau kamu sekarang sudah melebihi aku dalam segalanya. Aku malah bangga karena Tuhan sudah berkenan membiarkan aku ikut menyaksikan pembentukkan hidupmu. Seperti sebatang lilin, hidupku sudah meleleh habis… dan sebentar lagi pasti akan padam… untuk menerangi hidupmu, anakku. Kini engkau sendiri sudah mulai menyala, lebih terang dari yang kupunya. Anakku... Kalau engkau memang sulit menerima aku yang sering rewel, kolot atau lamban ini, aku mohon paling tidak kamu mau menghormati ayahmu. Sepanjang hari setiap hari selama bertahun-tahun dia bekerja keras untukmu, hingga tubuhnya lemah, hingga kulitnya kerut merut tertimpa banyak penderitaan. Cintanya padamu membuatnya tidak malu untuk bekerja di tempat-tempat yang kotor, membuatnya tahan duduk berjam-jam menangani tugas-tugas yang membosankan, dan membuatnya setia menjagai kita semua.Dia juga hanya ingin agar kita ini berbahagia. Anakku... Jangan sia-siakan cintanya. Jarang sekali dia mengeluh kala menghadapi beratnya beban kehidupan, tugas-tugas berat dan tuntutan anak-anaknya. Di hadapan kita, dia selalu tersenyum dan tertawa gembira. Kadang-kadang aku merasa kasihan kepadanya kalau dia tidak bisa pulang seharian, kalau tubuhnya yang sudah kecapaian itu harus dipaksa untuk bekerja lagi. Saya sendiri sering merasa bersalah karena rasanya hanya memperlakukan ayah seperti kuda beban atau sapi perahan. Kita bisa beli ini itu, bisa pergi ke sana kemari atau bermain-main dengan santai di rumah, sementara itu dia hanya puas dengan secangkir kopi dan baju yang itu itu saja, dia juga tidak mempunyai banyak waktu untuk bersantai-santai seperti kita. Sungguh anakku, aku mohon hormatilah ayahmu. Akhirnya... Sebagai orang tuamu aku minta maaf kalau selama ini aku kadang-kadang egois, menuntut terlalu berlebihan, kolot dan keras terhadapmu. Maafkan aku bila aku kurang mengerti kebutuhan-kebutuhan dan dunia mudamu. Kadang aku masih menganggapmu seperti anak-anak yang harus kuatur segalanya agar tidak keliru. Maafkan aku anakku, yang membuat banyak kesalahan atau malah menyengsarakanmu, yang tidak dapat mencintai dengan cara yang cocok dengan keinginanmu. Kata maaf darimu adalah hadiah yang paling kutunggu. Anakku... Aku sudah kangen kamu. Ingin rasanya kubisikkan aku sayang kamu. Hanya peluk ciumku untukmu. IBU-MU === Salam Sabar ===

ibu Miskin but poor do not care

mulianya seorang ibu dan kasih sayangnya yang tak kan pernah hilang dan habisnya. Kasih Kasih sayang seorang ibu kepada anaknya tak terhingga sepanjang masa demikian yang sering terdengar ditelinga kita. Kita pasti ingat dalam lagu anak-anak, Kasih Ibu, yang memiliki pesan-pesan moral agar kita menghormati ibu. Lirik lagu anak-anak ini jelas menunjukkan sosok dan sifat-sifat ibu, yaitu ”Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagaikan surya menyinari dunia”. Lagu ini mungkin termasuk lagu kenangan sepanjang masa. Kita sering menyanyikannya sejak kecil sampai kita menjadi orang tua. Lagu sederhana, namun memberi kesan yang mendalam. Demikian pula lirik lagu yang diciptakan Iwan Fals dengan judulnya Ibu, menandakan betapa sayang seorang ibu seperti udara yang selalu melekat dan setia membingkai kehidupan anaknya. Segala sesuatu yang terjadi, manis dan pahit , suka dan duka kehidupan yang dialami dan dirasakan oleh seorang ibu, kasih sayangnya tetap tanpa batas dan tak akan pernah luntur sekalipun. Namun “apakah pantas lirik lagu diatas diperuntukan bagi semua ibu yang ada didunia ini” Melihat beberapa kasus yang banyak terjadi saat ini baik melalui media cetak dan eletronik bahwa seorang ibu tega membuang, menjual bahkan memaksa anaknya menjadi seorang pelacur. Seperti yang pernah dilakoni pasangan Maman 37, dan Marni, 35, (keduanya bukan nama sebenarnya) ini. Suami istri itu mengakui telah menjual dua dari enam anaknya (Pos Kota,16/2/10). Demikian Tina dan Rudi (bukan nama sebenarnya), pasangan suami istri ini mengakui, bahwa mereka telah dua kali menjual darah dagingnya sendiri kepada orang lain. Tina mengaku, hal ini dia lakukan karena ia tidak bisa membesarkan anaknya, karena alasan kemiskinan (waspada, 18/2/10. Dari beberapa kasus diatas, motif penjualan anak yang dilakukan oleh seorang ibu dengan dalih kemiskinan lalu kasih sayangnya harus pupus dan luntur bagi anaknya. Sungguh seorang Ibu yang biadab dan tak bertanggung jawab serta tak pantas mendapatkan predikat seorang ibu. Bahkan Undang-Undang Perlindungan Anak (UUPA) Nomor 23 Tahun 2002 secara tegas memberikan hukuman dan ancaman pidana bagi seseorang yang memperdagangkan dan menjual anak kepada orag lain. #sumber berita google

LEARN in MUHAMMADIYAH MALANG

kasih

Kasih sayang ialah dimana kita tidak mampu mengungkapkannya dengan kata, tapi cukup untuk di rasakan oleh orang di sekitarnya.
orang yang mempunyai rasa kasih sayang ialah orang yang mampu menghidupkan orang di sekitarnya. karna " hiduplah sesederhana mungkin, sesederhana pelukan keluarga". ^_^